MAKALAH MENGAPRESIASI KARYA SASTRA



BAB I
PENDAHULUAN

Penerjemahan merupakan prses yang rumit, tetapi penerjemah yang mahir akan menemukan cara untuk mengungkapkan makna yang dimaksud, walaupun bentuk itu mungkin sangat berbeda dengan bentuk bahasa sumber (Larson, Mildrid L. Penerjemahan Berdasarkan Makna. 1989. Jakarta: Arcon. Hlm. 16-24)
Kebaikan menerjemahkan harfiah, kita bisa belajar bahasa kata demi kata dari bahasa sumber.
Ada beberapa aspek yang perlu difahami dalam mengapresiasi sebuah karya sastra, diantaranya aspek kognitif, aspek emotif dan aspek evaluatif. Itulah sebagian tahapan yang akan dibahas dalam penyampaian makalah ini.
Secara garis besar makalah ini akan membahas apresiasi salah satu sastra budaya sunda, yang mungkin lebih spesifik kepada singlar.
Oleh sebab itu maksud dibuat makalah ini adalah untuk sebuah pembelajaran pemahaman kepada sebuah karya sastra tersebut.







BAB II
KAJIAN TEORI

A.   Apresiasi sastra
Menurut Gove:
1.    pengenalan melalui perasaan  atau kepekaan batin;
2.    pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang
diungkapkan pengarang;
Unsur inti yang terlibat dalam apresiasi sastra
1.    Aspek kognitif; berkaitan dengan keterlibatan intelekpengetahuan pembaca mengenai unsur-unsur kesastraan.
a.          unsur intrinsik yaitu unsure internal yang terkandung dalam suatu karya (aspek bahasa yang menghadirkan makna)
b.       unsur ekstrinsik yaitu berkaitan dengan geografi pengarang,latar proses penciptaan, latar sosial budaya yang menunjang kehadiran texs sastra.
2.    Aspek emotif
Keterlibatan kepekaan emosi dalam memahami keindahan teks sastra.
3.    Aspek evaluativ
Berkaitan dengan kegiatan penilaian terhadap texs sastra menyangkut baik buruk, indah tidak indah,sesuai tidak sesuai dan penilaian-penilaian lainnya.
Puisi dapat didefinisikan sebagai sejenis bahasa yang menyampaikan pesannya dengan lebih padat daripada pemakaian bahasa biasa.bahasa biasa lazimnya dipakai untuk mengomunikasikan informasi ataudapat dikatakan sebagai bahasa praktis,sedangkan puisi sebagai suatu karya sastra yang dikomunikasikan bukan informasi melainkan cipta sastra membawakan semacam rasa dan persepsi tentang kehidupan; memperluas dan mempertajam kontak-kontak kita dengan pengalaman.untuk memenuhi kebutuhan batin dn agar hidup lebih bermakna,dengan kesadaran penuh ingin mengetahui pengalaman orang lain serta memahami lebih baik lagi pengalaman kita sendiri.
Puisi dibangun dengan unsur-unsur berikut ini
1.             Tema; makna
Tema merupakan sesuatu yang menjadi pokok permasalahan bagi penyair. Untuk memahami tema sebuah puisi,kita hendaknya membaca puisi tersebut berulang-ulang dengan memperhatikan dan menjelajahi makna kata yang terkandung dalam puisi tersebut.
Kita tidak cukup mendapatkan makna lugas yang tersurat dalam puisi,tetapi juga memahami makna yang tersiratnya.kedua mkana kata itu merupakan pintu masuk memahami makna utuh sebuah puisi.
Pengunkapan dalam puisi yang acuan makna nya bersifat inderawi disebut citraan.citraan perlu juga dipahami dalam rangka memaknai puisi secara menyeluruh. Ada beberapa citraan yang digunakan para penyair berdasarkan penyerapan inderanya terahadap objek.
Berikut ini jenis citraan dan contohnya dalam puisi
a)    Citraan perasa
Betapa dinginya air sungai
Dinginya ! dinginya!
b)      Citraan visual
 Hai,anak!
 Jangan bersandar pula dipohon
c)      Citraan gerak
 Diluar angin berputar-putar
Si anak meraba punggung dan pantatnya
Pukulan si bapak timbulkan sendam
d)     Citraan pendengaran
Sebuah bel kecil tergantung di jendela
Di bulan juni
Berkeliling sepi
2.    Rasa
Rasa adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang dikandung dalam puisi. Rasa merupakan dunia emosional yang terdapat dalam puisi.hubungan penyair terhadap permasalahan tercermin dalam suasana puisi.sikap ini akan menumbuhkan kesan tertentu antara lain haru, murung, ceria, heroik, putus asa.

3.   Nada
Nada merupakan sikap penyair terhadap pembaca. Bagaimana penyair menyikapi pembaca: doktriner, menghakimi, menggurui, menghasut, atau menyindir dipengaruhi tempat lahirnya puisi tersebut.
4.   Amanat; tujuan; maksud
Amanat adalah sesuatu yang menjadi tujuan sang penyair atau efek tertentu yang didambakan penyair.
Gambaran puisi tersebut merupakan penegasan tentang puisi modern atau puisi bebas. Disamping itu kita juga mengenal pantun dan syair yang merupakan bentuk puisi lama. Puisi lama ini merupkan ciri-ciri  keterikatan yang lebih tegas dan jelas. Unsure pengikat tersebut didasarkan pada rima,irama,jumlah suku kata dalam satu baris,dan jumlah baris dalam satu bait.
Contoh pantun
         Inilah cerita seorang manusia
         Yang selalu menanggung derita
         Tiada sesat pun bahagia
         Seolah hidup ini hanyalah sengsara
B.   Teori terjemahan
Teori terjemahan ialah satu cabang linguistik yang menguraikan aspek-aspek bahasa, kebudayaan, dan komunikasi yang berperanan dalam amalan terjemahan. Penterjemahan ditakrifkan sebagai “penyalinan semula maklumat dari pada bahasa sumber ke dalam bahasa penerima dalam bentuk persamaan yang terdekat dan sejadi, pertama dari segi makna dan kedua dari segi gayanya”.
Pada suatu masa dahulu, jika seseorang mengetahui dua bahasa, dia dianggap boleh menjadi penterjemah tanpa memerlukan pengetahuan lanjut. Pendapat ini kini dianggap sangat jauh daripada kenyataan. Pakar-pakar dalam bidang penterjemahan telah menghasilkan teori dan prinsip yang menjadikan pedoman bagi para penterjemah. Seseorang yang ingin menjadi penterjemah yang baik kini diperlukan memenuhi empat syarat utama seperti yang berikut:
·         Menguasai bahasa sumber secara mendalam: Keperluan ini dikehendaki untuk membolehkan seseorang penterjemah mengetahui selok-belok keistimewaan dan keganjilan bahasa sumber supaya dapat membezakan makna yang terkandung dalam teks asal dan dengan itu, mentakrifkan maksudnya dengan tepat.

·         Mengetahui bahasa penerima: Mengikut pakar terjemahan hari ini, seseorang penterjemah harus juga menguasai bahasa penerima dengan sama baik, jika bukan dengan lebih baik.

·         Pengetahuan dalam bidang yang diterjemahkan: Untuk menjamin supaya makna atau maklumat yang terkandung dalam teks asal dapat dipindahkan dengan tepat dan sempurna dari pada bahasa sumber ke dalam bahasa penerima, seseorang penterjemah harus mengetahui dengan secukupnya bidang yang hendak diterjemahkan. Ini adalah penting, bukan sahaja untuk penterjemahan teks-teks khusus dan teknik, tetapi juga untuk penterjemahan karya-karya kesusasteraan.

·         Mengetahui teori dan amalan terjemahan: Pada suatu masa dahulu, penterjemahan dianggap sebagai suatu tugas untuk mencari perkataan-perkataan padanan yang boleh menggantikan perkataan-perkataan asal dalam bahasa sumbernya. Ini tidak lagi dianggap benar kerana penterjemah juga bertanggungjawab untuk memindahkan idea, maklumat dan gaya teks yang diterjemahkan. Ini bermaksud bahawa penterjemahan perlu dibantu oleh ilmu pengetahuan yang mencukupi dalam bidang teori dan kaedah terjemahan semasa menjalankan tugasnya.
a.   Jenis-Jenis Penerjemahan
Penerjemahan ada dua, yaitu penerjemahan harfiah dan penerjemahan idiomatis. Penerjemahan yang berdasarkan bentuk yang berusaha mengikuti bentuk bahasa sumber disebut penerjemahan harfiah. Penerjemahan  yang berdasarkan makna berusaha menyampaikan makna teks bahasa sumber dengan bentuk bahasa sasaran yang wajar disebut penerjemahan idiomatis. Penerjemahan harfiah sering difungsikan oleh orang yang belajar linguistik,tetapi sulit ditangkap. Penerjemahan yang idiomatis adalah yang paling baik digunakan berkomunikasi. Penerjemahan tersebut akan terasa seperti sumbernya. Perlu dibatasi penerjemahan idiomatis tidak boleh terlalu bebas.
Amanat yang ada dalam teks sumber harus dipilih secara gramatikal dan leksikal yang wajar dalam bahasa tersebut. Menerjemahkan dengan ciri gramatikal :
1.     Setiap bahasa memiliki pembagian leksikon ke dalam pembagian kelas kata (verba, nomina, adverbia, dll.)
2.     Tiap bahasa mempunyai kelas kata yang berbeda dan sub kelas yang berbeda, oleh sebab itu kita harus mengetahui kelas atau sub kelas kata tersebut.
Menerjemahkan dengan ciri leksikal :
1.     Setiap bahasa mempunyai cara idiomatisnya sendiri untuk mengungkapkan makna melalui unsur leksikal (kata, frase)
2.     Setiap bahasa mempunyai banyak idiom, makna sekunder, metafora, dan makna figuratif lainnya.
Kesimpulan :
Penerjemahan merupakan prses yang rumit, tetapi penerjemah yang mahir akan menemukan cara untuk mengungkapkan makna yang dimaksud, walaupun bentuk itu mungkin sangat berbeda dengan bentuk bahasa sumber (Larson, Mildrid L. Penerjemahan Berdasarkan Makna. !989. Jakarta: Arcon. Hlm. 16-24)
Kebaikan menerjemahkan harfiah, kita bisa belajar bahasa kata demi kata dari bahasa sumber.

b.   Langkah-Langkah Menerjemahkan:
1.    Membaca dengan baik teks (menganalisis bentuk bahasa yang ada didalamnya (kelas bentuk kata/bahasa dan ciri-ciri leksikal)
2.    Melihat pesannya, ada 2 ciri yaitu:
    1. Ciri bahasa
  Leksikal
  Struktur (gramatikal dan pragmatik)
  Makna (semantik)
    1. Ciri non bahasa
  Budaya
  Adat istiadat
  Kebiasaan
3.    Menentukan makna yang mendekati (makna yang equivalen)
4.    Menyusun kembali.
c.    Kata Sebagai Gugus Makna

Unsur leksikal atau kata merupakan gugus komponen makna. Penerjemah harus mampu menganalisis unsur leksikal teks sumber itu. Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa komponen makna ada di dalam konsep yang digolongkan secara semantis menjadi benda, kejadian, atribut, dan relasi. Benda didefinisikan makhluk bernyawa atau tidak. Kejadian mencakup semua tindakan, proses, dan pengalaman. Atribut mencakup sikap atau sifat kualitas dan kuantitas yang dianggap berasal dari benda atau kejadian. Relasi adalah hubungan dua semantis diantara dua satuan tadi. Apabila kita menerjemahkan dengan konsep tadi, banyak akan membantu kita, sebab bahasa satu dengan bahasa yang lain tidak selalu selaras, bisa terjadi penyimpangan klasifikasi sehingga menyulitkan pengungkapan kembali.

Kesimpulan:
Bahwa dalam menerjemahkan tidak selalu dari benda ke benda, dari kejadian ke kejadian, dari atribut ke atribut, tetapi bisa juga berdasarkan relasi yaitu hubungan ketiganya (menerjemahkan sesuai dengan konsep)

d.   Hubungan Antar Unsur Leksikal
Yang dimaksud hubungan antar unsur leksikal adalah mencakup semua kata yang spesifik atau disebut generik spesifik. Contoh kata-kata yang disebut generik spesifik misalnya pada binatang, ada domba, kuda, keledai, komponen lain misalnya jantan atau betina. Contoh dalam Bahasa Bali, misalnya: poh tasak, semental, pusuh, matah. Hubungan antar unsur yang lain adalah kata ganti, (contoh: sang prabu, sang natha, paduka raja, tuanku, itu semua bersifat generik spesifik), sinonim, antonim dan resiprokal. Di dalam analisis harus konsekuen dengan satu nama.

e.   Makna Melalui Pengelompokan.
Makna akan ditemukan dengan cara melihat hubungan bagian dengan keseluruhan. Apabila kita menemukan beberapa kata dagu, pipi,hidung, telinga, itu merupakan bagian dari kepala.

f.     Makna Budaya Sebuah Kesimpulan Kecil
Pengungkapan sebuah makna dikomunikasikan oleh bahasa sumber dan bahasa sasaran. Pada permukaannya merupakan fenomena sebagai pengalihan kode. Biasanya unsur-unsur yang muncul adalah:
  1. Pengalihan bahasa
  2. Pengalihan isi (content)
  3. Padanan = reference (mendekati yang diacu)
Karena bahasa merupakan bagian dari kebudayaan maka pengalihan kode itu tidak mengacu pada bentuk dan makna saja, tetapi juga budayanya, oleh sebab itu penerjemah mengalami hambatan kebahasaan juga dari segi budayanya. Hal seperti itu dikatakan oleh Hoed bahwa implikasi budaya terhadap proses penerjemahan bisa memberikan pemahaman terhadap fenomena. Jika dalam menerjemahkan menemukan istilah budaya, ada 3 hal yang dapat dilakukan, yaitu :
  1. Boleh dibiarkan
  2. Diberi penjelasan
  3. Glosarium (lampiran penjelasan)
Bahasa merupakan mediasi pikiran, perasaan dan perbuatan. Bahasa menerjemahkan nilai dan norma skema kognitif (bahasa sebenarnya) manusia, persepsi, sikap dan kepercayaan manusia tentang dunia para pendukungnya.
Bassnett (1998) menggambarkan hubungan antara bahasa dan budaya adalah 2 hal yang tidak dipisahkan. Kematian salah satu ditentukan oleh yang lain, sehingga memerlukan pelestarian kedua aspek tersebut.
Ada pendapat yang disampaikan oleh Boas, tidak saja hubungan timbal balik antara pikiran dan bahasa tetapi juga antara bahasa dan adat, bahasa dan prilaku etnis, antara bahasa dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam budaya. Demikian kuat hubungan bahasa dan budaya sehingga kekayaan budaya tercermin dalam bahasanya, hal itu tidak terbatas dalam kosakata saja, tetapi juga dalam aspek retorika.
Fishman mengatakan hubungan antara bahasa dan budaya dalam 3 perspektif, yakni:
1.               Sebagai bagian dari budaya
2.               Sebagai indeks budaya
3.               Sebagai simbolik bahasa
Pengejawantahan prilaku manusia misalnya: upacara, ritual nyanyian, cerita, doa, tindak tutur, atau peristiwa wicara. Sebagai indeks budaya bahasa merupakan cara berpikir, item leksikal (kosakata). Sebagai simbolik budaya, bahasa menunjukkan identitas budaya etnis, karena bahasa merupakan bagian dari budaya, maka disatu sisipenerjemahan tidak hanya bisa dipahami sebagai pengalihan bentuk dan makna, tetapi juga budaya.

C.   Bangun Struktur Puisi
Bangun struktur puisi adalah unsur pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual. Unsur tersebut akan meliputi (1) bunyi, (2) kata, (3) larik atau baris, (4) bait, dan (5) tipografi. Bangun struktur disebut sebagai salah satu unsur yang dapat diamati secara visual karena dalam puisi juga terdapat unsur-unsur yang hanya dapat ditangkap lewat kepekaan batin dan daya kritis pikiran pembaca.
Unsur yang tersembunyi dibalik bangun struktur disebut dengan istilah lapis makna. Unsur lapis makna ini sulit dipahami sebelum memahami bangun strukturnya terlebih dahulu.
1). Unsur Bunyi dalam Puisi
Bila berbicara tentang masalah bunyi dalam puisi, kita harus memahami konsep tentang:
1.    Rima, yang didalamnya masih mengandung berbagai aspek, meliputi a. Asonansi atau runtun vokal, b. Aliterasi atau purwakanti, c. Rima akhir, d. Rima dalam, e. Rima rupa, f. Rima identik, dan g. Rima sempurna.
2.    Irama, yakni paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas, baik berupa alunan keras-lunak, tinggi-rendah, panjang-pendek, dan kuat lemah yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu.
3.    Ragam bunyi meliputi bunyi euphony, bunyi cacophony, dan onomatope.

Rima adalah bunyi yang berselang/berulang, baik didalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi.
Euphony sebagai salah satu ragam bunyi yang mampu menuansakan suasana keriangan, vitalitas maupun gerak. Bunyi euphony berupa bunyi-bunyi vokal.
Cacophony adalah bunyi yang menuansakan suasana ketertekanan batin, kebekuan, kesepian ataupun kesedihan.
2). Kata dalam Puisi
Berdasarkan bentuk dan isi, kata-kata dalam puisi dapat dibedakan antara (1) lambang, yakni bila kata-kata itu mengandung makna seperti makna dalam kamus (makna leksikal) sehingga acuan maknanya tidak menunjuk pada bebagai macam kemungkinan lain (makna denotatif), (2) utterance atau indice, yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaan dalam konteks pemakaian. Dan (3) simbol, yakni bila kata-kata itu mengandung makna ganda (makna konotatif).
Lambang dalam puisi mungkin dapat berupa kata tugas, kata dasar, maupun kata bentukan.
Ada beberapa contoh gaya bahasa dalam puisi, sebagai berikut:
1.    Metafor, yakni pengungkapan yang mengandung makna secara tersirat untuk mengungkapkan acuan makna yang lain selain makna sebenarnya.
2.    Metonimi, yakni pengungkapan dengan menggunakan suatu realitas tertentu, baik itu nama orang, benda atau sesuatu yang lain untuk menampilkan makna-makna tertentu.
3.    Anafora, yakni pengulangan kata atau frase pada awal dua larik puisi secara berurutan untuk penekanan atau keefektifan bahasa.
4.    Oksimoron, yakni gaya bahasa yang menggunakan penggabungan kata yang sebenarnya acuan maknanya bertentangan.

3). Baris dalam Puisi
Istilah baris atau larik dalam puisi, pada dasarnya sama dengan istilah kalimat dalam karya prosa. Hanya saja, sesuai dengan hak kepengarangan yang diistilahkan dengan licentia poetica, maka wujud, ciri-ciri dan peranan larik dalam puisi tidak begitu saja disamakan secara menyeluruh dengan kalimat dalam karya prosa. Selain itu baris dalam puisi juga sering kali mengalami pelesapan, yakni penghilangan salah satu atau beberapa bentuk dalam suatu larik untuk mencapai kepadatan dan keefektifan bahasa.
Baris dalam puisi, pada dasarnya merupakan pewasah, penyatu, dan pengemban ide penyair yang diawali lewat kata.

4). Bait dalm Puisi
Bait adalah kesatuan larik yang berada dalam satu kelompok dalam rangka mendukung satu kesatuan pokok pikiran, terpisah dari kelompok larik (bait) lainnya.
Peranan bait dalam puisi adalah untuk membentuk suatu kesatuan makna dalam rangka mewujudkan pokok pikiran tertentu yang berbeda dengan satuan makna dalam kelompok larik lainnya. Pada sisi lain, bait juga berperan dalam menciptakan tipografi puisi. Selain itu bait uga berperan dalam menekankan atau mementingkan suatu gagasan serta menunjukkan adanya loncat-loncatan gagasan yang dituangkan penyairnya.
5). Tipografi dalam Puisi
Tipografi adalah cara penulisan suatu puisi, sehingga menampilkan bentuk-bentuk tertentu yang dapat diamati secara visual.
Peranan tipografi dalam puisi, selain untuk menampilkan aspek artistik visual, juga untuk menciptakan nuansa makna dan suasana tertentu. Selain itu, tipografi juga berperan dalam menunjukkan adanya lonacatan gagasan serta memperjelas adanya satuan-satuan makna tertentu yang ingin dikemukakan penyairnya.













BAB III
PEMBAHASAN

A.    APRESIASI SASTRA
1.    ASPEK KOGNITIF
a.    Unsur intrinsik
b.    Unsur ekstrinsik
2.    ASPEK EMOTIF
3.    ASPEK EVALUATIF

1.   Unsur intrinsik
1.1         Tema
Tema yang ada pada singlar ka musuh yaitu untuk penangkal dari bahaya.  Tema ini didapat dari keseluruhan makna yang menjurus pada keselamatan, citraan yang digunakan pada singlar ka musuh yaitu :
-      Citra pendengaran : curulung cai ti manggung
-      Citra penglihatan : barabat ti awang – awang
-      Citra gerak : mun deuk nyatru ka si itu, mun deuk bahla ka si eta
-      Citraan perasaan : ada dalam kalimat “anaking palias teuing”

1.2  Rasa
Adalah sikap penyair terhadap pokok masalah, rasa pengarang yang ada dalam singlar tersebut yaitu dibuktikan dengan adanya “anaking palias teuing”
1.3 Nada
Nada atau sikap penyair terhadap pembaca yaitu menggurui, tertuang dalam kalimat  “mun deuk nyatru ka si itu, mun deuk hala ka si eta”

1.3         Amanat ; tujuan ; maksud
Tujuan sang penyair membuat singlar tersebut yaitu ingin memberikan pesan bahwa kita itu harus berhati – hati dalam segala sesuatu
2.   Unsur ekstrinsik
-      Dilihat dari segi sosial
Singlar ka musuh pada zaman dahulu digunakan untuk mengusir musur, karena pada saat itu masih banyak pemberontakan.  Bahkan mungkin pada saat itu kita masih belum merdeka, dikuasai oleh Negara asing.

-      Dilihat dari segi Agama
Singlar ka musuh merupakan  kalimat doa dimana masyarakat pada zaman itu masih memegang kepercayaan animisme, dinamisme

-     Dilihat dari segi ceritaan teks mantra
Dilihat dari segi ceritaannya teks ini sesuiai dengan judulnya yaitu singlar, yang artinya menjauhkan hal-hal yang tidak di inginkan
Analisis menurut teori misesis Genette
·         Gaya pengungkapan
Gaya pengungkapan yang digunakan dari singlar di atas yaitu secara tidak langsung atau menggunakan gaya bahasa denotatif.  Karena paparan atau fakta yg diujarkan sengaja dikaburkan.  Siapakah “ itu, eta” dalam paparan tersebut sulit ditentukan meskipun kata “itu, eta” disitu menurut study sejarah yang dilakukan oleh kelompok kami adalah kata “itu, eta” ditunjukan kepada orang lain yang menjadi musuh kita.  Gaya pengungkapan demikian disebut discourse transpose “gaya pengungkapan secara tidak langsung”.
Dalam singlar tersebut terdapat kalimat “cai tiis tanpa bisi” kalimat tersebut merupakan gaya pengungkapan discourse raconte “ujaran yang diceritakan” pada gaya pengungkapan tersebut paparan hanya berisi tindakan yang semata – mata terdapat dalam batin pengarang.
*      Pendekatan ekspresi, peran penyair sebagai subjek ekspresi yaitu bersifat menggurui.
*      Pendekatan mimesis, menekan adanya hubungan dengan dunia nyata yaitu gambaran keadaan jaman dulu yang berada pada keadaan tidak aman/ gawat.
*      Pendekatan objektif, hanya melihat pada karya itu
*      Teori semiotik
Menurut teori semiotik singlar ka musuh terdapat dua kalimat yang merupakan indesikal yakni bila lambang itu masih mengasosiasikan adanya hubungan dengan lambang yang lain seperti pada kalimat “curulung cai ti manggung, barabat ti awang - awang” jika kita translete ke dalam bahasa indonesia maka artinya mengalir air dari panggung, pancaran kilat dari langit.  Curulung mengasosiasikan air, karena dalam bahasa sunda diketahui “kecap anteuran dina nyarita” dan dalam kalimat barabat ti awang – awang memberikan asosiasi sambaran petir dari langit

B.    Analisis structural
Bangun  struktur puisi adalah unsure pembentuk puisi yang dapat diamati secara visual yang meliputi:
1.      Bunyi
1.1  Rima
 Rima yang terdapat dalam singlar diatas yaitu:
 Cu-ru-lung-ca-i-ti-man-gung (8 u)
 Ba-ra-bat-ti-a-wang-a-wang (8 a)
 Ca-i-ti-is-tan-pa-bi-si (8 i)
 Mun-deuk-nyat-ru-ka-si-i-tu (8 u)
 Mun-deuk-bah-la-ka-si-e-ta (8 a)
 a-nak-ing-pa-li-as-teu-ing (8 i)
 Jenis rimanya yaitu:
1)      Rima dalam /perulangan bunyi dalam satu larik
§  asonansi,yaitu pengulangan bunyi vokal dalam satu larik seperti dalam kalimat:
Mun deuk nyatru ka si itu
Mun deuk bahla ka si eta
2)      Rima akhir/ pengulangan bunyi akhir yang ada dalam setiap larik. Jika kita amati,singlar ka musuh diatas memiliki persamaan rima akhir yaitu: larik pertama dengan larik keempat (u), larik kedua dengan larik kelima (a) dan larik ketiga dengan larik keenam (i).
3)      Rima identik/ persamaan kata dalam setiap larik, bias kita lihat dalam larik keempat dan kelima:
Mun deuk nyatru kasi itu
Mun deuk bahla kasi eta
4)      Dalam singlar diatas juga terdapat purwkanti pangluyu, yaitu ngaluyukeun suara atau sakapeung wianjana dalam kata-kata. Bisa kita lihat dalam kalimat:
Mun deuk nyatru kasi itu
Mun deuk bahla ka si eta
Anaking palias teuing

1.2  Irama
Irama muncul dari adanya penataan rima. Setelah kami teliti   susunan rima dari singlar diatas continue dan berualanng yaitu 8u-8a-8i-8u-8a-8i sehingga menimbulkan musikalitas berupa alunan panjang-pendek, keras-lunak, tinggi-rendah, yang keseluruhannya mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu yang selain dari akibat penataan rima, juga akibat pemberian aksentuasi dan intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan secara oral.

1.3  Ragam bunyi
ragam bunyi yang ada dalam singlar ka musuh diatas yaitu ragam bunyi cacophony. Yang ada dalam kata:
mun deuk nyatru kasi itu
mun deuk bahla kasi eta
anaking palias teuing
dikatakan cacophony karena kata-kata diatas menuansakan suasana ketertekanan batin.

2.      Kata
Berdasarkan bentuk dan isinya kata-kata dalam puisi bias dibedakan menjadi:
2.1  lambang, yakni bila kata-kata itu mengandung makna seperti  makna pada kamus (makna leksikal)sehingga acuan makna tidak menunjuk pada berbagai macam kemungkinan lain (makna denotatif), seperti pada kalimat:
curulung cai ti manggung
barabat ti awang-awang
yang menjadi lambang dari singlar ka musuh yaitu terdapat pada kata cai dan barabat. Cai disana bukan menunjukan air yang sebenarnya, tetapi kata air disitu melambangkan musuh/hal-hal yang tidak di inginkan yang bisa datang kapan saja dan dimana saja. Sedangkan kata barabat melambangkan bahaya.

2.2  Utterance atau indice, yakni kata-kata yang mengandung makna sesuai dengan keberadaan dalam konteks pemakaian, bias kita lihat dalam kalimat:
Anaking palias teuing.
Kalimat ini menurut kamus Basa Sunda R. A. Danadibrata  sering digunakan untuk menandakan ketidakmauan dalam mendengar apalagi melakukannya. Oleh orang sunda ketika ia mendapati prediksi suatu kecelakaan. Maka sebagai penolaknya dengan mengatakan palias.
2.3  Simbol, yakni bila kata-kata itu mengandung makna ganda(makna konotatif)sehingga untuk memahaminya seseorang harus menapsirkannya (interpretatif) dengan melihat bagaimana hubungan makna kata tersebut dengan makna kata lainnya (analisis kontekstual).
Macam-macam symbol: blank symbol, natural symbol, private symbol.pengimajian.pengiasan.
§  Yang termasuk naural symbol diantaranya: cai, awang-awang, siitu,sieta dan anaking.
§  Yang termasuk private symbol, mencakup pengimajian dan pengiasan. Dalam singlar diatas terdapat imaji penglihatan,pendengaran dan perasaan. Sedangkan kiasannya terdapat dalam kata cai dan barabat
2.4  gaya bahasa
gaya basa yang terdapat dalam singlar diatas yaitu :
§  gaya basa metafor yang terdapat pada kata “barabat ti awang-awang” yang mengungkapkan makna “datangnya bahaya”
§  gaya basa metonimia yang terdapat dalam kalimat “mun deuk nyatru ka siitu, mun deuk bahla kasi eta” disitu mewakili makna “jika ingin berbuat kejahatan silahkan kepada dia(seseorang yang jauh) dalam artian musuh kita dan jika ingin berbuat kebaikan silahkan kepada dia(yang ada di dekat kita) dalam artian saudara kita.
3.      Larik atau Baris
Dari setiap larik singlar diatas terdapat beberapa kata yang menjadi satu kesatuan makna. Singlar diatas memiliki enam baris yang koheren .
4.      Bait
Singlar ini hanya terdiri dari satu bait. Jadi tidak perlu di kaji lagi.
5.      Tipografi
Tipografi yang digunakan oleh penyair yaitu berbentuk segi empat.
C.    Analisis terjemahan
*   Curulung       = kecap pagawean ngajungjungkeun suku lempeng bari nangkarak atawa bari ucang acung
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
Curulung       = tiruan sora angklung
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
*      Cai     = barang encer nu kaluar ti cinyusu, sumur, ngocor di walungan nu ngagolak 100°C sarta ngagibleg dina 0°C, cai teh gede gunana pikeun sakur anu kumelip di alam dunya.
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
Cai     = taya rupana taya ambeuna
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
*      Ti manggung = sansekerta, menggung hartina gerak, oleng, goyang.
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
·         Harti curulung cai ti manggung teh nyaeta cai lir ibarat musuh anu teu di duga, nu teu kacabak anu jolna ti luhur jauh
*      Barabat        = daradad
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
Barabat         = anteran keur nu nyarita
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
·         Harti barabat cai ti manggung teh nyaeta nu ngajorelat saperti kilat ngabarabat jauh ti awang – awang
*      Bisi     = kecap pikeun nuduhkeun temahna, balukarna anu acan tangtu hade gorengna
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
·         Hartina cai tiis tanpa bisi teh nyaeta dilarapkeun tina cai tiis eta mangrupa kaayaan keur tiis nu taya masalah tanpa nyaho hade gorengna.
*      Nyatru
*      Palias  = dilisankeun minangka panolak bala
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
*      Palias  = baid, cadu mangkuk, sangeuk teuing najis pisan kecap dipakena nandakeun embung pisan dina ngadengena komo dina ngalakona.
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
·         Hartina mun deuk nyatru ka si itu nyaeta mun deuk ngaakan indit jauh ka batur
·         Mun deuk hala ka si eta nyaeta mun pi pahalaeun bae kanu deukeut “ka si eta”
·         Anaking palias teuing hartina ibaratkeun ka teu sudian kana nu bararaid.












BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dalam mengapresiasi sebuah karya sastra, diperlukan beberapa teori yang perlu dipahami secara mendalam. Khususnya untuk karya sastra sunda, ada beberapa materi apresiasi sastra. Contohnya, analisis secara intrinsik maupun ekstrinsik. Untuk mengapresiasi singlar,secara linguistik  singlar ini mengandung unsur-unsur yaitu tema, nada, rasa, gaya bahasa dan amanat dalam. Yaitu:
*   Curulung       = kecap pagawean ngajungjungkeun suku lempeng bari nangkarak atawa bari ucang acung
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
Curulung       = tiruan sora angklung
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
*      Cai     = barang encer nu kaluar ti cinyusu, sumur, ngocor di walungan nu ngagolak 100°C sarta ngagibleg dina 0°C, cai teh gede gunana pikeun sakur anu kumelip di alam dunya.
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
Cai     = taya rupana taya ambeuna
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
*      Ti manggung = sansekerta, menggung hartina gerak, oleng, goyang.
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
·         Harti curulung cai ti manggung teh nyaeta cai lir ibarat musuh anu teu di duga, nu teu kacabak anu jolna ti luhur jauh
*      Barabat        = daradad
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
Barabat         = anteran keur nu nyarita
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
·         Harti barabat cai ti manggung teh nyaeta nu ngajorelat saperti kilat ngabarabat jauh ti awang – awang
*      Bisi     = kecap pikeun nuduhkeun temahna, balukarna anu acan tangtu hade gorengna
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
·         Hartina cai tiis tanpa bisi teh nyaeta dilarapkeun tina cai tiis eta mangrupa kaayaan keur tiis nu taya masalah tanpa nyaho hade gorengna.
*      Nyatru
*      Palias  = dilisankeun minangka panolak bala
(numutkeun kamus basa sunda R. Satjadibrata)
*      Palias  = baid, cadu mangkuk, sangeuk teuing najis pisan kecap dipakena nandakeun embung pisan dina ngadengena komo dina ngalakona.
(numutkeun kamus umum basa sunda R.A Danadibrata)
·         Hartina mun deuk nyatru ka si itu nyaeta mun deuk ngaakan indit jauh ka batur
·         Mun deuk hala ka si eta nyaeta mun pi pahalaeun bae kanu deukeut “ka si eta”
·         Anaking palias teuing hartina ibaratkeun ka teu sudian kana nu bararaid.

B.    Saran
Demi kemajuan pembuatan makalah kelompok ini sangat diharapkan adanya partisipassi yang berupa kritik dan saran dari dosen pengampu ataupun dari teman-teman sekalian.

Daftar Pustaka

Aminudin, 2010, Pengantar Apresiasi Sastra, Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Rahayu Tamsyah Budi,1996, Pangajaran Sastra Sunda, Bandung: CV. Pustaka Setia.
R. A. Danadibrata, 2006, Kamus Basa Sunda, Bandung:Kiblat Buku Utama.
R. Satjadibrata, 2010, Kamus Basa Sunda, Bandung: Kiblat Buku Utama.
Panduan Materi Bahasa Indonesia SMP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WANGENAN ARTIKEL

MAKALAH HIZBUL WATHAN

RESENSI BUKU METODE PENELITIAN SASTRA KARYA SISWANTORO DENGAN PENERBIT PUSTAKA PELAJAR