ALAT SINTAKTIS
ALAT SINTAKTIS
A. Batasan Alat Sintaktis
Dalam pembelajaran sintaksis atau tata kalimah bahasa Sunda, istilah pakakas kalimah (alat sintaktis) jarang dibicarakan. Kebanyakan pengajar menyajikan langsung bahan ajar yang berupa satuan dan konstruksi sintaktis. Oleh karena itu, istilah pakakas kalimah perlu diperkenalkan atau diajarkan kepada para pembelajar. Alat sintaktis atau syntactic devices (pakakas kalimah) adalah alat-alat untuk menghubungkan kata-kata menjadi konstruksi dengan struktur sintaktis tertentu, sedangkan struktur sintaktis adalah hubungan satuan-satuan dalam konstruksi sintaktis. Alat sintaktis turut menentukan makna gramatikal. Ada empat alat sintaktis meliputi empat macam, (1) urutan kata, (2) bentuk kata, (3) intonasi, dan (4) partikel.
- Urutan Kata
Urutan kata atau word order (runtuyan kecap) merupakan deretan kata-kata dalam sebuah konstruksi sintaktis. Urutan kata turut menentukan makna gramatikal. Misalnya, urutan kata pisang goreng bermakna "identitif‟, yakni sejenis pisang yang biasa digoreng, sedangkan urutan kata goreng pisang bermakna "resultatif‟, yakni pisang yang hasil menggoreng.
2. Bentuk Kata
Wangun kecap (bentuk kata, words form) atau adegan kecap (struktur kata, the structure of words) umumnya ditentukan oleh rarangken (imbuhan, afiks). Wangun kecap mencakup (1) kecap asal atau salancar (kata tunggal, kata asal,kata dasar) dan (2) kecap rekaan atau kecap jembar (kata kompleks, kata turunan). Kecap asal merupakan kata yang belum mengalami proses morfologis, sedangkan kecap rekaan merupakan kata yang telah mengalami proses morfologis.
Proses morfologis merupakan pembentukan katakata dari bentuk dasarnya (Ramlan, 1983) seperti ngararangkenan (afiksasi), ngarajek (reduplikasi), dan ngantetkeun (pemajemukan, komposisi). Pembentukan kata melalui ngararangkenan menghasilkan kecap rundayan (kata berafiks), melalui ngarajek menghasilkan kecap rajekan (kata ulang), dan melalui ngantetkeun menghasilkan kecap kantetan (kata majemuk). Di samping itu, ada lagi pembentukan kata melalui ngawancah (abreviasi), yang hasilnya disebut kecap wancahan (kata singkatan) (band. Wirakusumah & Djajawiguna, 1967; Kridalaksana, 1986). Wangun kecap beserta proses ngawangun kecap (proses morfologis)nya dapat digambarkan sebagai berikut.
Pembentukan kata menghasilkan berbagai makna gramatikal seperti jumlah, persona, diatesis, aspek, modus, kala, dan jenis kelamin.
3. Intonasi
Lentong (intonasi) merupakan alat sintaktis yang dalam tulisan diwujudkan dengan tanda baca (pungtuasi). Lentong menyangkut wirama (irama), nada, tekanan, dan randegan (jeda). Lentong dianggap sebagai ciri sebuah kalimat. Oleh karena itu, kalimat sering didefinisikan sebagai “satuan bahasa yang secara relatif dapat berdiri sendiri, yang mempunyai pola intonasi akhir dan yang terdiri atas klausa” (Cook, 1970:39--40; Elson & Pickett, 1969:82).
4. Partikel
Partikel atau kata tugas adalah alat sintaktis yang (1) jumlahnya terbatas, (2) keanggotaannya relatif tertutup, (3) umumnya tidak mengalami proses morfologis, (4) biasanya tidak mempunyai makna leksikal, melainkan makna gramatikal, (5) ada dalam berbagai macam wacana, dan (6) dikuasai oleh pemakai bahasa dengan cara menghapal (Kentjono, 1982:56). Kata tugas disebut juga kata sarana (Samsuri, 1985) dan tergolong kelas kata minor (Lyons, 1971) atau kelas kata tertutup (closed class words) (Quirk et al., 1987:74).
Komentar
Posting Komentar